Rabu, 29 Juli 2009

Tentang Sekrup dan Oympiade Fisika

Pada penyampaian visi ekonomi calon presiden yang diadakan kadin, Ibu Megawati menyampaikan visi ekonomi kerakyatannya dengan lugas dan cukup percaya diri. Sedikit tak terduga bagi public Ibu Megawati mampu tampil sebaik itu karena image yang terbentuk dari pilpres 2004 bahwa Ibu Mega lebih banyak diam. Seperti juga calon presiden yang lain yang mengaku mengusung ekonomi kerakyatan (entah yang mana asli yang mana imitasi) Ibu Mega memaparkan pentingnya kedaulatan ekonomi sesuai semangat konstitusi UUD 1945 dan pemikiran founding fathers kita.

Dari pemaparan itu ada yang menarik dan menggugah perhatian saya yaitu ketika Ibu Megawati mencontohkan ketika dia membeli sekrup yang begitu sederhana kenapa harus Made in China. Contoh yang betul-betul memiriskan hati, jangankan pesawat, mobil, computer, Hp atau yang canggih-canggih lainnya sekrup pun harus kita impor. Setelah 64 tahun kita merdeka tak satu pun produk teknologi made in Indonesia yang bisa kita banggakan, jangankan untuk di mancanegara. Menjadi tuan rumah di negeri sendiri pun tak ada. Kita selalu bangga dengan sumber daya alam kita yang melimpah, tak sadar bahwa apa yang kita hasilkan, dijual murah dan dibeli kembali dengan harga yang mahal setelah menjadi produk jadi.

Apa yang salah dinegara ini?Apakah Alasan klasik “sumber daya manusia kita” belum memadai? Saya kira tidak. Ribuan sarjana teknik yang dihasilkan perguruan tinggi setiap tahun. Ratusan atau ribuan Doktor Teknik jebolan dalam dan luar negeri. Para sarjana teknik terbaik negeri ini berlomba2 untuk menjadi karyawan di perusahaan asing yang siap memberikannya gaji yang memadai. Bukan karena mereka tidak memiliki nasionalisme, tapi Negara tak pernah memberi tempat buat mereka berpartisipasi membangun negerinya. Dan ibu Mega mencontohkan bagaimana para peraih olympiade fisika yang merupakan asset bangsa justru diberi beasiswa oleh Negara asing, bukan oleh Negara kita.

Saya kemudian teringat proyek besar Habibie yang cukup visioner yaitu IPTN, sebuah prestasi yang sudah ditunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bukan Cuma bisa bikin tempe, tapi sudah bisa membuat pesawat terbang. Habibie sadar betul bahwa bangsa yang besar dan disegani adalah bangsa yang maju dalam bidang teknologi, dan beliau mampu memperlihatkan itu dimata dunia. Jangan kan mobil, motor atau produk lainnya. Indonesia sudah mampu membuat pesawat terbang yang murni buatan Indonesia dari bahan baku sampai finishing, dan dikerjakan oleh insinyur Indonesia. Sesuatu yang patut dibanggakan meski hanya tinggal kenangan, karena tidak mendapat dukungan dari pemerintah sesudahnya. IPTN lalu bubar, para Insyinyur yang merupakan asset bangsa kemudian berlarian keluar negeri. Dan kita menjadi Negara pengimpor sekrup entah sampai kapan meskipun putra terbaik bangsa meraih juara di olympiade fisika setiap tahunnya.
Ada yang salah di Negara ini saya kira….

Tidak ada komentar: